Seiyun dan Nasib Aset Bank Sentral Yaman

Januari 01, 2026

Wacana penunjukan Seiyun sebagai ibu kota sementara Yaman membuka babak baru dalam dinamika politik dan ekonomi negara itu. Pertanyaan krusial pun muncul, terutama terkait nasib Bank Sentral Yaman yang selama ini berkedudukan di Aden sebagai pusat keuangan pemerintahan yang diakui internasional.

Dalam artikel sebelumnya, langkah Presiden Rashad Al Alimi menata ulang struktur kekuasaan PLC dipahami sebagai bagian dari konsolidasi pasca melemahnya pengaruh Uni Emirat Arab di Yaman timur. Penempatan Seiyun sebagai pusat pemerintahan sementara dinilai bukan sekadar keputusan administratif, melainkan langkah strategis jangka panjang.

Namun hingga kini, belum ada pengumuman resmi mengenai pemindahan fisik Bank Sentral Yaman dari Aden ke Seiyun. Yang berkembang adalah indikasi awal berupa penguatan kehadiran institusi keuangan negara di Hadramaut bagian dalam, tanpa menyentuh pemindahan total aset inti.

Sumber-sumber ekonomi Yaman menyebutkan bahwa pemindahan aset bergerak Bank Sentral, seperti cadangan kas, arsip moneter, dan sistem pembayaran, merupakan langkah sangat sensitif. Proses itu tidak bisa dilakukan secara terbuka tanpa kesiapan keamanan dan legitimasi politik yang kuat.

Saat ini, pendekatan yang tampak ditempuh adalah desentralisasi fungsi, bukan relokasi menyeluruh. Beberapa fungsi administratif dan koordinasi keuangan dilaporkan mulai diaktifkan di wilayah aman seperti Seiyun, sembari pusat operasional utama masih bertahan di Aden.

Langkah ini mencerminkan kehati-hatian Saudi dan PLC. Pemindahan total aset bank sentral berisiko ditafsirkan sebagai pengakuan bahwa Aden tidak lagi aman atau tidak lagi menjadi bagian efektif dari pemerintahan pusat.

Di sisi lain, Aden masih berada dalam bayang-bayang dominasi faksi-faksi bersenjata pro-UEA. Kondisi inilah yang mendorong munculnya opsi Seiyun sebagai pusat alternatif yang dinilai lebih stabil dan berada dalam lingkup pengaruh Saudi.

Pemindahan aset bergerak bank sentral juga menyentuh dimensi internasional. Bank Sentral Yaman berinteraksi dengan lembaga keuangan global, donor, dan negara-negara mitra yang sensitif terhadap legitimasi dan kesinambungan institusi.

Karena itu, pemindahan fisik cadangan keuangan tanpa pengumuman resmi bisa memicu kekhawatiran pasar dan mitra internasional. Hal ini berpotensi memperburuk kepercayaan terhadap sistem keuangan Yaman yang sudah rapuh.

Sejumlah analis menilai, jika Seiyun benar-benar ditetapkan sebagai ibu kota sementara, tahap awalnya akan berupa pemindahan simbolik dan administratif. Misalnya, penempatan pejabat senior keuangan dan pembukaan kantor operasional bank sentral cabang dengan kewenangan khusus.

Pendekatan bertahap ini memungkinkan pemerintah menguji stabilitas keamanan Seiyun sebelum mengambil langkah besar. Keamanan menjadi faktor utama mengingat sejarah serangan terhadap institusi negara di Yaman.

Selain keamanan, faktor logistik juga krusial. Infrastruktur perbankan, komunikasi, dan transportasi di Seiyun harus mampu menopang aktivitas bank sentral dalam skala nasional.

Hingga kini, tidak ada laporan kredibel bahwa aset bergerak bernilai besar telah dipindahkan dari Aden. Ini menguatkan asumsi bahwa proses masih berada pada tahap perencanaan, bukan eksekusi penuh.

Namun sinyal politiknya jelas. Dengan menjadikan Seiyun pusat pemerintahan sementara, Aden secara de facto mulai ditinggalkan sebagai pusat kekuasaan tunggal.

Situasi ini memberi tekanan tambahan pada faksi-faksi di Aden. Keberadaan bank sentral selama ini menjadi salah satu simbol paling penting dari legitimasi politik kota tersebut.

Jika suatu saat aset bergerak bank sentral benar-benar dipindahkan, itu akan menjadi indikator paling kuat bahwa Seiyun telah menggantikan Aden secara nyata, bukan sekadar simbolik.

Para pengamat memperkirakan keputusan tersebut baru akan diambil setelah posisi Saudi benar-benar mapan di Hadramaut dan risiko konfrontasi bersenjata dapat ditekan.

Dalam konteks konflik internal PLC, langkah ini juga menjadi alat tawar politik. Ancaman pemindahan bank sentral bisa digunakan untuk mendisiplinkan faksi yang menolak garis kebijakan Riyadh.

Bagi masyarakat Yaman, isu ini bukan sekadar soal lokasi ibu kota. Bank sentral menyangkut gaji, nilai tukar, dan stabilitas harga kebutuhan pokok.

Ketidakpastian berkepanjangan berisiko memperburuk kondisi ekonomi rakyat. Karena itu, pemerintah dituntut transparan dan berhati-hati dalam setiap langkah.

Seiyun mungkin disiapkan sebagai pusat kekuasaan baru, tetapi bank sentral belum sepenuhnya bergerak. Yang terlihat sejauh ini adalah fase transisi sunyi, penuh kalkulasi.

Jika sejarah Yaman mengajarkan sesuatu, maka perubahan besar jarang terjadi sekaligus. Pemindahan bank sentral, bila benar terjadi, kemungkinan akan menjadi langkah terakhir dari rangkaian konsolidasi politik yang kini sedang berlangsung.

Anggota PLC Yaman Bakal Direshuffle, Siapa Tergeser?

Januari 01, 2026
Langkah perombakan terbatas dalam Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman atau PLC memunculkan tanda tanya besar. Meski ada tiga anggota yang secara terbuka menentang perintah Presiden Rashad Al-Alimi, hanya satu figur yang akhirnya terseret dalam agenda reshuffle.

Anggota tersebut adalah Faraj Al-Bahsani, yang dikenal sebagai tokoh PLC dengan afiliasi kuat ke Uni Emirat Arab. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa PLC bersiap menggantinya dengan Ketua Aliansi Suku Hadramaut, Amr bin Hubrish.

Keputusan ini muncul di tengah fase baru pasca penarikan faksi-faksi pro UEA dari wilayah Yaman timur, khususnya Hadramaut. PLC dinilai mulai menata ulang lanskap politik dan keamanan setelah memastikan pengaruh Abu Dhabi menyusut di kawasan tersebut.

Pertanyaannya kemudian mengemuka, mengapa hanya Al-Bahsani yang disingkirkan, sementara dua tokoh pro-UEA lain yang juga menolak perintah presiden, termasuk Tariq Saleh, tidak tersentuh?

Sumber-sumber diplomatik menyebut, Al-Bahsani dianggap sebagai mata rantai terlemah dalam struktur pro-UEA. Basis kekuatannya yang bersifat lokal di Hadramaut membuatnya lebih mudah digeser tanpa memicu guncangan militer nasional.

Berbeda dengan itu, Tariq Saleh memiliki kekuatan bersenjata besar dan terorganisir di Pantai Barat Yaman. Pasukannya tidak hanya kuat secara militer, tetapi juga memainkan peran penting dalam keseimbangan konflik dengan kelompok Houthi.

PLC dinilai tidak ingin membuka terlalu banyak front konflik dalam satu waktu. Menggoyang posisi Tariq Saleh secara langsung berisiko memicu eskalasi militer yang lebih luas dan tidak terkendali.

Selain faktor militer, posisi Tariq Saleh juga memiliki dimensi politik yang rumit. Ia masih dianggap sebagai figur kompromi oleh sebagian pihak internasional, terutama dalam konteks perang melawan Houthi.

Sementara itu, dua anggota PLC lainnya yang menentang perintah presiden dinilai belum melewati garis merah strategis. Penentangan mereka dipandang lebih bersifat manuver politik dibanding pembangkangan struktural.

Dalam konteks ini, reshuffle terhadap Al-Bahsani memiliki makna simbolik. Ia menjadi pesan langsung Riyadh kepada Abu Dhabi bahwa pengaruh UEA di Hadramaut tidak lagi ditoleransi.

Penggantinya, Amr bin Hubrish, dipandang sebagai representasi kekuatan lokal Hadramaut yang lebih independen dari kekuatan eksternal. Penunjukan ini diharapkan meredam ketegangan dan memperkuat legitimasi lokal.

Langkah PLC juga diiringi dengan rencana menjadikan Seiyun sebagai ibu kota sementara, menggantikan Aden yang selama ini dikuasai faksi-faksi pro-UEA dan Dewan Transisi Selatan.

Dengan memindahkan pusat pemerintahan de facto, PLC berupaya mengurangi ketergantungan pada wilayah yang secara politik tidak sepenuhnya sejalan dengan kebijakan Saudi.

Sumber Yaman menyebut, batas waktu yang diberikan PLC kepada UEA untuk menarik pasukannya telah berakhir. Ini memperkuat dugaan bahwa Riyadh siap mengambil langkah yang lebih tegas.

Namun langkah tegas itu tampak dipilih secara selektif. PLC dinilai sedang menerapkan strategi bertahap, memotong satu per satu simpul pengaruh UEA, bukan memutuskannya sekaligus.

Dalam strategi tersebut, Hadramaut menjadi prioritas pertama. Wilayah ini dinilai krusial secara geografis, ekonomi, dan simbolik bagi masa depan Yaman.

Adapun Tariq Saleh dan faksi lain diperkirakan akan menjadi agenda tahap berikutnya, setelah posisi PLC di Yaman timur benar-benar terkonsolidasi.

Pendekatan ini juga dimaksudkan untuk menjaga kesan stabilitas di mata mitra internasional. Perombakan besar-besaran di PLC berisiko melemahkan legitimasi lembaga itu sendiri.

Bagi Presiden Rashad Al-Alimi, langkah ini memberi ruang bernapas politik. Ia dapat menunjukkan ketegasan tanpa harus berhadapan langsung dengan seluruh faksi bersenjata.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik internal PLC bukan sekadar soal pelanggaran perintah, melainkan bagian dari pertarungan pengaruh regional antara Saudi dan UEA.

Dengan hanya satu anggota yang direshuffle, pesan politiknya jelas. Ini bukan akhir konflik internal PLC, melainkan awal dari fase penataan ulang yang lebih besar dan lebih berhitung.

Ke depan, nasib anggota PLC lain yang berseberangan dengan Alimi akan sangat bergantung pada keseimbangan militer, politik, dan regional yang terus berubah di Yaman.

 
Copyright © Porsea Online. Designed by OddThemes