Langkah perombakan terbatas dalam Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman atau PLC memunculkan tanda tanya besar. Meski ada tiga anggota yang secara terbuka menentang perintah Presiden Rashad Al-Alimi, hanya satu figur yang akhirnya terseret dalam agenda reshuffle.
Anggota tersebut adalah Faraj Al-Bahsani, yang dikenal sebagai tokoh PLC dengan afiliasi kuat ke Uni Emirat Arab. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa PLC bersiap menggantinya dengan Ketua Aliansi Suku Hadramaut, Amr bin Hubrish.
Keputusan ini muncul di tengah fase baru pasca penarikan faksi-faksi pro UEA dari wilayah Yaman timur, khususnya Hadramaut. PLC dinilai mulai menata ulang lanskap politik dan keamanan setelah memastikan pengaruh Abu Dhabi menyusut di kawasan tersebut.
Pertanyaannya kemudian mengemuka, mengapa hanya Al-Bahsani yang disingkirkan, sementara dua tokoh pro-UEA lain yang juga menolak perintah presiden, termasuk Tariq Saleh, tidak tersentuh?
Sumber-sumber diplomatik menyebut, Al-Bahsani dianggap sebagai mata rantai terlemah dalam struktur pro-UEA. Basis kekuatannya yang bersifat lokal di Hadramaut membuatnya lebih mudah digeser tanpa memicu guncangan militer nasional.
Berbeda dengan itu, Tariq Saleh memiliki kekuatan bersenjata besar dan terorganisir di Pantai Barat Yaman. Pasukannya tidak hanya kuat secara militer, tetapi juga memainkan peran penting dalam keseimbangan konflik dengan kelompok Houthi.
PLC dinilai tidak ingin membuka terlalu banyak front konflik dalam satu waktu. Menggoyang posisi Tariq Saleh secara langsung berisiko memicu eskalasi militer yang lebih luas dan tidak terkendali.
Selain faktor militer, posisi Tariq Saleh juga memiliki dimensi politik yang rumit. Ia masih dianggap sebagai figur kompromi oleh sebagian pihak internasional, terutama dalam konteks perang melawan Houthi.
Sementara itu, dua anggota PLC lainnya yang menentang perintah presiden dinilai belum melewati garis merah strategis. Penentangan mereka dipandang lebih bersifat manuver politik dibanding pembangkangan struktural.
Dalam konteks ini, reshuffle terhadap Al-Bahsani memiliki makna simbolik. Ia menjadi pesan langsung Riyadh kepada Abu Dhabi bahwa pengaruh UEA di Hadramaut tidak lagi ditoleransi.
Penggantinya, Amr bin Hubrish, dipandang sebagai representasi kekuatan lokal Hadramaut yang lebih independen dari kekuatan eksternal. Penunjukan ini diharapkan meredam ketegangan dan memperkuat legitimasi lokal.
Langkah PLC juga diiringi dengan rencana menjadikan Seiyun sebagai ibu kota sementara, menggantikan Aden yang selama ini dikuasai faksi-faksi pro-UEA dan Dewan Transisi Selatan.
Dengan memindahkan pusat pemerintahan de facto, PLC berupaya mengurangi ketergantungan pada wilayah yang secara politik tidak sepenuhnya sejalan dengan kebijakan Saudi.
Sumber Yaman menyebut, batas waktu yang diberikan PLC kepada UEA untuk menarik pasukannya telah berakhir. Ini memperkuat dugaan bahwa Riyadh siap mengambil langkah yang lebih tegas.
Namun langkah tegas itu tampak dipilih secara selektif. PLC dinilai sedang menerapkan strategi bertahap, memotong satu per satu simpul pengaruh UEA, bukan memutuskannya sekaligus.
Dalam strategi tersebut, Hadramaut menjadi prioritas pertama. Wilayah ini dinilai krusial secara geografis, ekonomi, dan simbolik bagi masa depan Yaman.
Adapun Tariq Saleh dan faksi lain diperkirakan akan menjadi agenda tahap berikutnya, setelah posisi PLC di Yaman timur benar-benar terkonsolidasi.
Pendekatan ini juga dimaksudkan untuk menjaga kesan stabilitas di mata mitra internasional. Perombakan besar-besaran di PLC berisiko melemahkan legitimasi lembaga itu sendiri.
Bagi Presiden Rashad Al-Alimi, langkah ini memberi ruang bernapas politik. Ia dapat menunjukkan ketegasan tanpa harus berhadapan langsung dengan seluruh faksi bersenjata.
Situasi ini menunjukkan bahwa konflik internal PLC bukan sekadar soal pelanggaran perintah, melainkan bagian dari pertarungan pengaruh regional antara Saudi dan UEA.
Dengan hanya satu anggota yang direshuffle, pesan politiknya jelas. Ini bukan akhir konflik internal PLC, melainkan awal dari fase penataan ulang yang lebih besar dan lebih berhitung.
Ke depan, nasib anggota PLC lain yang berseberangan dengan Alimi akan sangat bergantung pada keseimbangan militer, politik, dan regional yang terus berubah di Yaman.











Posting Komentar