Hasakah dan Suwaida dalam Uji Keamanan

Februari 05, 2026
Perbandingan tingkat keamanan antara Provinsi Hasakah dan Suwaida kembali menjadi perdebatan hangat di Suriah pasca perubahan politik nasional. Dua wilayah ini sama-sama mengusung model kekuasaan hibrida, namun dengan konfigurasi yang sangat berbeda. Hasakah dipimpin gubernur dari struktur SDF, sementara kepala keamanan berasal dari pemerintah pusat Suriah. Sebaliknya, Suwaida memiliki gubernur dari Damaskus, tetapi kepala keamanan dijabat figur lokal Druze yang berakar kuat di masyarakat.

Penunjukan Sulaiman Abdul Baqi sebagai Direktur Keamanan Internal Provinsi Suwaida pada September 2025 menandai babak baru dalam peta politik wilayah selatan Suriah yang selama ini sarat ketegangan. Abdul Baqi dikenal sebagai tokoh perlawanan lokal yang memiliki legitimasi sosial di kalangan Druze, namun kini berada dalam struktur resmi keamanan pemerintahan Presiden Ahmed Al Sharaa.

Langkah ini segera memicu kontroversi, mengingat Suwaida pasca Bashar Al Assad menjadi basis kekuatan kelompok separatis yang dipimpin Syekh Hikmat al-Hajri. Kelompok ini secara terbuka membawa agenda pemisahan de facto dan dikaitkan dengan proyek neokolonialisme Greater Israel yang dipandang mengancam integritas Suriah.

Banyak pihak awalnya memprediksi bahwa penunjukan Abdul Baqi akan memicu konflik terbuka dengan faksi-faksi bersenjata loyalis Al-Hajri. Namun realitas di lapangan menunjukkan dinamika berbeda. Hingga kini tidak terjadi bentrokan langsung antara aparat keamanan resmi di bawah Abdul Baqi dan milisi Druze lokal, menandakan adanya kesepakatan tidak tertulis untuk menjaga stabilitas internal.

Koordinasi unik antara otoritas negara dan otoritas moral Druze ini menjadi penopang utama keamanan Suwaida. Meski demikian, stabilitas tersebut dibayar mahal oleh kelompok lain. Milisi Al-Hajri tercatat melakukan pembantaian terhadap warga Arab Badui, memicu eksodus besar-besaran ke Provinsi Daraa.

Hingga saat ini, ribuan warga Arab Badui masih hidup sebagai pengungsi karena tidak dapat kembali ke rumah mereka di Suwaida. Sekitar sepertiga wilayah provinsi itu dilaporkan berada di bawah kendali milisi separatis yang mendirikan entitas de facto bernama Jabal Bashan, dengan struktur keamanan dan administrasi sendiri.

Sejak hari pertama menjabat, Abdul Baqi menegaskan fokusnya pada penanggulangan kriminalitas, terutama penculikan dan peredaran narkoba yang telah lama menghantui Suwaida. Pendekatan ini dinilai pragmatis karena menghindari konfrontasi politik langsung sekaligus menjawab keresahan warga sipil.

Strategi tersebut berhasil meredam sensitivitas masyarakat terhadap kehadiran aparat keamanan yang terafiliasi Damaskus. Warga Suwaida melihat Abdul Baqi bukan sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat, melainkan sebagai putra daerah yang berusaha memformalkan keamanan dengan kendali lokal.

Relasi antara Abdul Baqi dan Syekh Hikmat al-Hajri menjadi poros utama stabilitas Suwaida saat ini. Meski berada di kubu formal yang berbeda, keduanya tampak saling melengkapi peran. Al-Hajri tetap menjadi simbol otoritas spiritual dan politik separatisme, sementara Abdul Baqi memastikan roda negara tetap berjalan.

Namun hubungan ini juga menyisakan kritik tajam. Abdul Baqi dinilai terlalu permisif terhadap milisi Al-Hajri, terutama karena tidak ada tekanan serius agar mereka membuka jalan bagi kembalinya warga Arab Badui ke kampung halaman mereka.

Di sisi lain, Abdul Baqi secara terbuka menegaskan komitmennya pada persatuan Suriah dan menolak proyek separatis apa pun. Pernyataan ini sering disampaikan dalam forum resmi dan diplomatik, menjadikannya jembatan komunikasi penting antara Suwaida dan Presiden Ahmed Al Sharaa.

Di lapangan, para pendukung milisi Al-Hajri justru kerap menggelar aksi provokatif dengan mengibarkan bendera kelompok mereka berdampingan dengan foto Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Aksi ini dipandang sebagai penghinaan terbuka terhadap Damaskus dan simbol keterlibatan Tel Aviv dalam konflik lokal.

Berbagai laporan menyebut Israel hingga kini masih menyalurkan dana dan gaji bagi milisi Al-Hajri yang dikenal sebagai “Garda Nasional”. Tekanan dari kelompok inilah yang menjadi tantangan terbesar Abdul Baqi, termasuk insiden penembakan sporadis terhadap aparat keamanan Suriah.

Sikap Abdul Baqi yang dianggap menoleransi kekerasan terhadap warga Arab Badui berpotensi menjadi preseden buruk. Jika dibiarkan, hal ini dapat merusak kepercayaan publik terhadap Damaskus dan menggerogoti legitimasi negara di mata kelompok non-Druze.

Sementara itu, kondisi Hasakah menunjukkan pola berbeda. Di provinsi ini, gubernur berasal dari struktur SDF, sementara kepala keamanan tetap berada di bawah kendali pemerintah pusat. Struktur ini menciptakan ketegangan laten, tetapi relatif minim konflik horizontal antarwarga, meski penangkapan kepada tokoh Arab Hasakah mulai terlihat.

Keamanan Hasakah lebih ditentukan oleh keseimbangan militer antara SDF dan negara, bukan oleh konsensus sosial seperti di Suwaida. Meski berisiko eskalasi politik, pola ini justru menekan munculnya milisi sektarian liar yang bertindak di luar kontrol.

Jika dibandingkan, Suwaida tampak lebih “tenang” secara permukaan, tetapi rapuh secara moral dan kemanusiaan. Hasakah, meski penuh ketidakpastian politik, relatif lebih aman bagi warga sipil lintas etnis karena tidak ada legitimasi sosial untuk pembersihan kelompok tertentu.

Dalam jangka pendek, model Suwaida memberi stabilitas instan, sedangkan Hasakah menyimpan potensi konflik vertikal. Namun dalam jangka panjang, keamanan Hasakah dinilai lebih berkelanjutan karena tidak mengorbankan kelompok sipil demi kompromi elite lokal.

Masyarakat internasional kini memantau apakah model keamanan ala Suwaida dapat bertahan tanpa meledak menjadi konflik terbuka. Jawabannya akan menentukan apakah kompromi berbasis identitas lokal benar-benar menciptakan perdamaian, atau hanya menunda ledakan yang lebih besar di kemudian hari.

Great Power Games di Laut Merah Meningkat

Januari 09, 2026
Laut Merah kembali menjadi sorotan dunia karena perannya sebagai jalur perdagangan vital sekaligus arena persaingan geopolitik yang kompleks. Kawasan ini tidak hanya penting bagi negara-negara regional, tetapi juga bagi kekuatan besar global yang ingin menjaga pengaruhnya.

Letak strategis Laut Merah, yang menghubungkan Mediterranean via Terusan Suez ke Samudra Hindia, menjadikannya jalur utama pengiriman minyak, gas, dan barang strategis dunia. Setiap gangguan di wilayah ini bisa berdampak langsung pada pasar global.

Situasi di Laut Merah semakin tegang karena konflik regional, terutama perang di Yaman. Kelompok Houthi yang didukung Iran kerap menjadi ancaman bagi kapal dagang internasional, sementara koalisi Saudi-UAE berupaya mengamankan wilayah pesisir mereka.

Kehadiran militer asing di wilayah ini kian meningkat. Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris secara rutin mengirim kapal perang untuk menjaga kebebasan navigasi. Rusia pun menambah kunjungan kapal dan latihan militer, memanfaatkan ketegangan untuk memperluas pengaruhnya.

China hadir melalui Belt and Road Initiative, membangun fasilitas logistik dan pangkalan di Djibouti. Kehadiran ini sekaligus mendukung kepentingan perdagangan global dan memberi opsi strategis di kawasan.

Di tengah dinamika global, Sudan muncul sebagai titik penting. Negara ini menjadi medan interaksi antara kekuatan regional dan internasional, karena posisinya di tepi Laut Merah membuatnya strategis secara militer dan ekonomi.

Baru-baru ini, dukungan militer asing untuk Sudan meningkat signifikan. Sebuah pesawat kargo Turki mendarat di Bandar Udara Port Sudan, membawa suplai senjata untuk Angkatan Bersenjata Sudan. Langkah ini menegaskan keterlibatan Turki dalam dinamika militer regional.

Selain itu, muncul bocoran informasi tentang dukungan Saudi untuk Sudan. Riyadh menyiapkan paket senjata yang dikirim melalui negara ketiga seperti Pakistan, memperkuat kapabilitas militer Sudan secara diam-diam.

Tidak hanya itu, Saudi juga memfasilitasi pembelian pesawat tempur Rusia untuk tentara Sudan melalui Kazakhstan. Ini menunjukkan strategi Riyadh dalam memperkuat sekutu regional sekaligus menahan pengaruh rival di kawasan.

Fenomena ini menimbulkan kesan bahwa Turki dan Saudi telah menemukan titik temu kepentingan di Sudan, terutama dalam menghadapi dominasi dan pengaruh Uni Emirat Arab. Kedua negara seolah bekerja sama untuk menyeimbangkan kekuatan militer dan politik di Laut Merah.

Persaingan ini bukan hanya soal pasokan senjata, tetapi juga kontrol atas jalur laut dan pengaruh politik. Setiap langkah militer di Sudan dapat berdampak pada stabilitas perairan di sekitar Laut Merah.

Kehadiran Turki dan Saudi juga memicu dinamika baru di arena geopolitik global. Mereka menunjukkan bahwa negara regional pun mampu berperan sebagai pemain penting di "great power games" modern, tidak hanya negara besar seperti AS atau Rusia.

Di sisi lain, konflik lokal di Yaman dan Sudan menjadi katalisator bagi intervensi eksternal. Ketegangan ini memberi peluang bagi kekuatan asing untuk memperkuat posisi melalui dukungan militer, diplomasi, dan kontrak ekonomi.

Strategi ini juga mencerminkan perpaduan antara kepentingan ekonomi dan militer. Penguatan militer Sudan melalui bantuan Turki dan Saudi tidak hanya meningkatkan kapabilitas lokal, tetapi juga memberi leverage bagi kedua negara di jalur perdagangan Laut Merah.

Sementara itu, UAE sebagai rival regional di Sudan menghadapi tantangan signifikan. Dominasi Turki dan Saudi di medan politik dan militer mengurangi ruang gerak Abu Dhabi untuk menegakkan kepentingannya di kawasan.

Analisis menunjukkan bahwa Laut Merah kini menjadi zona persaingan multi-layer: antara kekuatan global (AS, Rusia, China), negara regional (Saudi, UAE, Turki), dan aktor lokal (Sudan, Yaman, Houthi). Semua pihak memanfaatkan konflik dan jalur strategis untuk memperkuat posisi.

Selain faktor militer, diplomasi maritim juga ikut bermain. Kesepakatan senjata, transfer teknologi, dan latihan bersama menjadi alat penting dalam menjaga pengaruh masing-masing aktor di Laut Merah dan sekitarnya.

Bagi Sudan, keterlibatan Turki dan Saudi memberikan keuntungan strategis, tetapi juga menempatkan negara ini dalam persaingan kepentingan besar. Setiap keputusan politik dan militer memiliki dampak jangka panjang bagi stabilitas regional.

Laut Merah, dengan posisi strategis dan kompleksitas konflik lokal, jelas menjadi arena "great power games" modern. Persaingan militer, ekonomi, dan diplomasi bercampur, menciptakan ketegangan yang memengaruhi seluruh kawasan.

Di masa depan, peran Sudan sebagai titik persimpangan kepentingan global kemungkinan akan terus meningkat. Dukungan Turki dan Saudi menjadi simbol bagaimana negara regional dapat mengubah dinamika kekuatan, sementara jalur perdagangan vital tetap menjadi taruhan utama.

Jika tren ini berlanjut, Laut Merah bukan hanya jalur perdagangan, tetapi juga panggung geopolitik utama, tempat negara besar dan regional memainkan strategi mereka, dan Sudan berada di pusat perhatian global.

Separatisme di Jantung Istana Yaman?

Januari 01, 2026
Untuk pertama kalinya dalam sejarah konflik Yaman modern, agenda politik yang menuntut pemisahan wilayah Selatan dibahas secara terbuka di dalam Istana Kepresidenan Ma’ashiq, Aden. Pertemuan tingkat tinggi Dewan Transisi Selatan yang dipimpin Aidarus al-Zoubaidi di gedung simbol kedaulatan Republik Yaman itu menandai pergeseran tajam dari konflik bersenjata menuju perebutan legitimasi di ruang negara.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan hukum dan politik yang serius. Bagaimana mungkin sebuah gerakan yang membawa narasi pemisahan diri menggunakan fasilitas negara yang secara konstitusional mewakili persatuan Yaman. Peristiwa ini bukan sekadar rapat biasa, melainkan cermin rapuhnya otoritas negara, ketika kekuasaan de facto mulai menegosiasikan masa depan negara dari dalam istana itu sendiri.

Mengapa bisa begitu?

Berikut penjelasan utuhnya, disusun agar jelas secara hukum, politik, dan realitas di lapangan.

Pertama, secara hukum formal, Istana Ma’ashiq di Aden adalah istana kepresidenan Republik Yaman. Gedung itu milik negara Yaman yang bersatu, bukan milik entitas separatis. Karena itu, membahas agenda pemisahan diri di dalam istana negara jelas bertentangan dengan konstitusi dan legalitas negara Yaman.

Kedua, STC secara resmi tidak pernah mendeklarasikan kemerdekaan Yaman Selatan. Mereka sengaja memakai bahasa abu-abu seperti “hak menentukan nasib sendiri”, “aspirasi rakyat selatan”, atau “restorasi negara selatan”. Secara hukum internasional, ini memberi celah naratif agar mereka tetap bisa bergerak tanpa langsung dituduh makar.

Ketiga, kehadiran STC di Istana Ma’ashiq terjadi karena fakta kekuasaan, bukan legitimasi hukum. Sejak 2019, STC menguasai Aden secara militer. Pemerintah pusat hanya bisa kembali secara terbatas melalui perjanjian Riyadh, yang memberi STC posisi formal dalam struktur negara, termasuk kursi di PLC.

Keempat, Aidarus al-Zoubaidi memiliki dua topi sekaligus:
– Wakil Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden (jabatan negara Yaman)
– Ketua Dewan Transisi Selatan (gerakan separatis)

Dengan posisi ini, ia mengaburkan batas antara negara dan gerakan separatis, sehingga kegiatan STC bisa “dibungkus” sebagai rapat pejabat negara.

Kelima, inilah sebab utama mengapa pertemuan itu bisa dilakukan di istana negara: STC memanfaatkan status formal dalam pemerintahan untuk memajukan agenda non-formal separatis. Secara hukum ini problematik, tetapi secara politik sulit dicegah.

Keenam, Arab Saudi sebagai sponsor proses politik Yaman membiarkan paradoks ini terjadi demi stabilitas sementara. Bagi Riyadh, yang penting saat ini adalah keamanan Aden dan jalur strategis, bukan penyelesaian final isu persatuan atau pemisahan.

Ketujuh, pemerintah Yaman sendiri lemah secara institusional. Tidak ada kekuatan nyata di Aden yang mampu melarang STC menggunakan istana, karena keamanan istana pun dikendalikan pasukan pro-STC.

Kedelapan, dari sudut pandang hukum tata negara, apa yang dilakukan STC bisa dikategorikan sebagai penyalahgunaan fasilitas negara. Namun dalam kondisi negara gagal (failed state parsial), hukum kalah oleh realitas senjata dan kontrol wilayah.

Kesembilan, secara simbolik, pertemuan di Istana Ma’ashiq adalah pesan politik yang sangat kuat. STC ingin menunjukkan bahwa mereka bukan lagi oposisi, tetapi penguasa de facto selatan, bahkan di jantung simbol negara Yaman.

Kesepuluh, ini juga pesan ke luar negeri. STC ingin memberi kesan bahwa mereka sudah siap menjadi “negara dalam penantian”, dengan struktur pemerintahan, militer, dan legitimasi administratif.

Kesebelas, bagi banyak pengamat, peristiwa ini justru melemahkan PLC sendiri. Jika istana negara bisa dipakai membahas agenda pemisahan, maka otoritas pusat sebenarnya telah runtuh secara praktik.

Keduabelas, inilah mengapa isu Seiyun sebagai ibu kota sementara menguat. Riyadh tampak ingin menjauhkan pusat kekuasaan negara dari Aden, yang sudah terlalu dalam dikuasai STC.

Ketigabelas, secara hukum internasional, selama STC belum mendeklarasikan kemerdekaan, negara lain bisa berpura-pura bahwa ini hanya dinamika internal Yaman, bukan pelanggaran kedaulatan.

Keempatbelas, namun secara substansi, ini adalah normalisasi separatisme dalam institusi negara. Sesuatu yang dalam sistem negara stabil tidak mungkin terjadi.

Kelimabelas, inilah bedanya legitimasi dan kekuasaan. Pemerintah Yaman punya legitimasi hukum, tetapi STC punya kekuasaan nyata di Aden.

Keenambelas, pertemuan itu juga menunjukkan bahwa STC sedang menguji batas. Mereka melihat sejauh mana agenda mereka bisa didorong tanpa reaksi keras dari Saudi atau komunitas internasional.

Ketujuhbelas, hingga kini, tidak ada sanksi atau kecaman resmi. Ini memberi sinyal bahwa garis merah belum ditarik.

Kedelapanbelas, jika praktik ini terus dibiarkan, maka pembahasan separatisme di gedung negara akan menjadi hal “normal”, dan itu berbahaya bagi keberlangsungan negara Yaman.

Kesembilanbelas, secara hukum, ini bertentangan. Secara politik, ini terjadi karena kekosongan kekuasaan. Secara militer, ini dimungkinkan karena kontrol senjata.

Keduapuluh, dengan kata lain, STC membahas separatisme di istana negara bukan karena itu sah, tetapi karena negara Yaman saat ini tidak cukup kuat untuk melarangnya.

Seiyun dan Nasib Aset Bank Sentral Yaman

Januari 01, 2026

Wacana penunjukan Seiyun sebagai ibu kota sementara Yaman membuka babak baru dalam dinamika politik dan ekonomi negara itu. Pertanyaan krusial pun muncul, terutama terkait nasib Bank Sentral Yaman yang selama ini berkedudukan di Aden sebagai pusat keuangan pemerintahan yang diakui internasional.

Dalam artikel sebelumnya, langkah Presiden Rashad Al Alimi menata ulang struktur kekuasaan PLC dipahami sebagai bagian dari konsolidasi pasca melemahnya pengaruh Uni Emirat Arab di Yaman timur. Penempatan Seiyun sebagai pusat pemerintahan sementara dinilai bukan sekadar keputusan administratif, melainkan langkah strategis jangka panjang.

Namun hingga kini, belum ada pengumuman resmi mengenai pemindahan fisik Bank Sentral Yaman dari Aden ke Seiyun. Yang berkembang adalah indikasi awal berupa penguatan kehadiran institusi keuangan negara di Hadramaut bagian dalam, tanpa menyentuh pemindahan total aset inti.

Sumber-sumber ekonomi Yaman menyebutkan bahwa pemindahan aset bergerak Bank Sentral, seperti cadangan kas, arsip moneter, dan sistem pembayaran, merupakan langkah sangat sensitif. Proses itu tidak bisa dilakukan secara terbuka tanpa kesiapan keamanan dan legitimasi politik yang kuat.

Saat ini, pendekatan yang tampak ditempuh adalah desentralisasi fungsi, bukan relokasi menyeluruh. Beberapa fungsi administratif dan koordinasi keuangan dilaporkan mulai diaktifkan di wilayah aman seperti Seiyun, sembari pusat operasional utama masih bertahan di Aden.

Langkah ini mencerminkan kehati-hatian Saudi dan PLC. Pemindahan total aset bank sentral berisiko ditafsirkan sebagai pengakuan bahwa Aden tidak lagi aman atau tidak lagi menjadi bagian efektif dari pemerintahan pusat.

Di sisi lain, Aden masih berada dalam bayang-bayang dominasi faksi-faksi bersenjata pro-UEA. Kondisi inilah yang mendorong munculnya opsi Seiyun sebagai pusat alternatif yang dinilai lebih stabil dan berada dalam lingkup pengaruh Saudi.

Pemindahan aset bergerak bank sentral juga menyentuh dimensi internasional. Bank Sentral Yaman berinteraksi dengan lembaga keuangan global, donor, dan negara-negara mitra yang sensitif terhadap legitimasi dan kesinambungan institusi.

Karena itu, pemindahan fisik cadangan keuangan tanpa pengumuman resmi bisa memicu kekhawatiran pasar dan mitra internasional. Hal ini berpotensi memperburuk kepercayaan terhadap sistem keuangan Yaman yang sudah rapuh.

Sejumlah analis menilai, jika Seiyun benar-benar ditetapkan sebagai ibu kota sementara, tahap awalnya akan berupa pemindahan simbolik dan administratif. Misalnya, penempatan pejabat senior keuangan dan pembukaan kantor operasional bank sentral cabang dengan kewenangan khusus.

Pendekatan bertahap ini memungkinkan pemerintah menguji stabilitas keamanan Seiyun sebelum mengambil langkah besar. Keamanan menjadi faktor utama mengingat sejarah serangan terhadap institusi negara di Yaman.

Selain keamanan, faktor logistik juga krusial. Infrastruktur perbankan, komunikasi, dan transportasi di Seiyun harus mampu menopang aktivitas bank sentral dalam skala nasional.

Hingga kini, tidak ada laporan kredibel bahwa aset bergerak bernilai besar telah dipindahkan dari Aden. Ini menguatkan asumsi bahwa proses masih berada pada tahap perencanaan, bukan eksekusi penuh.

Namun sinyal politiknya jelas. Dengan menjadikan Seiyun pusat pemerintahan sementara, Aden secara de facto mulai ditinggalkan sebagai pusat kekuasaan tunggal.

Situasi ini memberi tekanan tambahan pada faksi-faksi di Aden. Keberadaan bank sentral selama ini menjadi salah satu simbol paling penting dari legitimasi politik kota tersebut.

Jika suatu saat aset bergerak bank sentral benar-benar dipindahkan, itu akan menjadi indikator paling kuat bahwa Seiyun telah menggantikan Aden secara nyata, bukan sekadar simbolik.

Para pengamat memperkirakan keputusan tersebut baru akan diambil setelah posisi Saudi benar-benar mapan di Hadramaut dan risiko konfrontasi bersenjata dapat ditekan.

Dalam konteks konflik internal PLC, langkah ini juga menjadi alat tawar politik. Ancaman pemindahan bank sentral bisa digunakan untuk mendisiplinkan faksi yang menolak garis kebijakan Riyadh.

Bagi masyarakat Yaman, isu ini bukan sekadar soal lokasi ibu kota. Bank sentral menyangkut gaji, nilai tukar, dan stabilitas harga kebutuhan pokok.

Ketidakpastian berkepanjangan berisiko memperburuk kondisi ekonomi rakyat. Karena itu, pemerintah dituntut transparan dan berhati-hati dalam setiap langkah.

Seiyun mungkin disiapkan sebagai pusat kekuasaan baru, tetapi bank sentral belum sepenuhnya bergerak. Yang terlihat sejauh ini adalah fase transisi sunyi, penuh kalkulasi.

Jika sejarah Yaman mengajarkan sesuatu, maka perubahan besar jarang terjadi sekaligus. Pemindahan bank sentral, bila benar terjadi, kemungkinan akan menjadi langkah terakhir dari rangkaian konsolidasi politik yang kini sedang berlangsung.

Anggota PLC Yaman Bakal Direshuffle, Siapa Tergeser?

Januari 01, 2026
Langkah perombakan terbatas dalam Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman atau PLC memunculkan tanda tanya besar. Meski ada tiga anggota yang secara terbuka menentang perintah Presiden Rashad Al-Alimi, hanya satu figur yang akhirnya terseret dalam agenda reshuffle.

Anggota tersebut adalah Faraj Al-Bahsani, yang dikenal sebagai tokoh PLC dengan afiliasi kuat ke Uni Emirat Arab. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa PLC bersiap menggantinya dengan Ketua Aliansi Suku Hadramaut, Amr bin Hubrish.

Keputusan ini muncul di tengah fase baru pasca penarikan faksi-faksi pro UEA dari wilayah Yaman timur, khususnya Hadramaut. PLC dinilai mulai menata ulang lanskap politik dan keamanan setelah memastikan pengaruh Abu Dhabi menyusut di kawasan tersebut.

Pertanyaannya kemudian mengemuka, mengapa hanya Al-Bahsani yang disingkirkan, sementara dua tokoh pro-UEA lain yang juga menolak perintah presiden, termasuk Tariq Saleh, tidak tersentuh?

Sumber-sumber diplomatik menyebut, Al-Bahsani dianggap sebagai mata rantai terlemah dalam struktur pro-UEA. Basis kekuatannya yang bersifat lokal di Hadramaut membuatnya lebih mudah digeser tanpa memicu guncangan militer nasional.

Berbeda dengan itu, Tariq Saleh memiliki kekuatan bersenjata besar dan terorganisir di Pantai Barat Yaman. Pasukannya tidak hanya kuat secara militer, tetapi juga memainkan peran penting dalam keseimbangan konflik dengan kelompok Houthi.

PLC dinilai tidak ingin membuka terlalu banyak front konflik dalam satu waktu. Menggoyang posisi Tariq Saleh secara langsung berisiko memicu eskalasi militer yang lebih luas dan tidak terkendali.

Selain faktor militer, posisi Tariq Saleh juga memiliki dimensi politik yang rumit. Ia masih dianggap sebagai figur kompromi oleh sebagian pihak internasional, terutama dalam konteks perang melawan Houthi.

Sementara itu, dua anggota PLC lainnya yang menentang perintah presiden dinilai belum melewati garis merah strategis. Penentangan mereka dipandang lebih bersifat manuver politik dibanding pembangkangan struktural.

Dalam konteks ini, reshuffle terhadap Al-Bahsani memiliki makna simbolik. Ia menjadi pesan langsung Riyadh kepada Abu Dhabi bahwa pengaruh UEA di Hadramaut tidak lagi ditoleransi.

Penggantinya, Amr bin Hubrish, dipandang sebagai representasi kekuatan lokal Hadramaut yang lebih independen dari kekuatan eksternal. Penunjukan ini diharapkan meredam ketegangan dan memperkuat legitimasi lokal.

Langkah PLC juga diiringi dengan rencana menjadikan Seiyun sebagai ibu kota sementara, menggantikan Aden yang selama ini dikuasai faksi-faksi pro-UEA dan Dewan Transisi Selatan.

Dengan memindahkan pusat pemerintahan de facto, PLC berupaya mengurangi ketergantungan pada wilayah yang secara politik tidak sepenuhnya sejalan dengan kebijakan Saudi.

Sumber Yaman menyebut, batas waktu yang diberikan PLC kepada UEA untuk menarik pasukannya telah berakhir. Ini memperkuat dugaan bahwa Riyadh siap mengambil langkah yang lebih tegas.

Namun langkah tegas itu tampak dipilih secara selektif. PLC dinilai sedang menerapkan strategi bertahap, memotong satu per satu simpul pengaruh UEA, bukan memutuskannya sekaligus.

Dalam strategi tersebut, Hadramaut menjadi prioritas pertama. Wilayah ini dinilai krusial secara geografis, ekonomi, dan simbolik bagi masa depan Yaman.

Adapun Tariq Saleh dan faksi lain diperkirakan akan menjadi agenda tahap berikutnya, setelah posisi PLC di Yaman timur benar-benar terkonsolidasi.

Pendekatan ini juga dimaksudkan untuk menjaga kesan stabilitas di mata mitra internasional. Perombakan besar-besaran di PLC berisiko melemahkan legitimasi lembaga itu sendiri.

Bagi Presiden Rashad Al-Alimi, langkah ini memberi ruang bernapas politik. Ia dapat menunjukkan ketegasan tanpa harus berhadapan langsung dengan seluruh faksi bersenjata.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik internal PLC bukan sekadar soal pelanggaran perintah, melainkan bagian dari pertarungan pengaruh regional antara Saudi dan UEA.

Dengan hanya satu anggota yang direshuffle, pesan politiknya jelas. Ini bukan akhir konflik internal PLC, melainkan awal dari fase penataan ulang yang lebih besar dan lebih berhitung.

Ke depan, nasib anggota PLC lain yang berseberangan dengan Alimi akan sangat bergantung pada keseimbangan militer, politik, dan regional yang terus berubah di Yaman.

 
Copyright © Porsea Online. Designed by OddThemes